Home Profile History Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora pada 1 Desember Tidak Punya Legalitas Historis

Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora pada 1 Desember Tidak Punya Legalitas Historis

1166
0

Sejak sekitar tahun 2015, aksi pengibaran bendera Bintang Kejora yang disebut Global Flag Raising (GFR) telah menjadi agenda tahunan oleh beberapa komunitas dan aktivis Papua di beberapa negara di dunia. Namun aksi global ini sesungguhnya tidak memiliki pijakan atau legalitas historis.

  1. Berdasarkan penelusuran historis, tanggal 1 Desember yang diperingati sebagai hari kemerdekaan Papua merujuk kepada klaim bahwa Pemerintah Belanda “menghadiahi” lagu kebangsaan dan bendera Bintang Kejora kepada gerakan Papua pada 1 Desember 1961 di Hollandia (nama untuk Jayapura ketika itu). Tapi sebenarnya tidak ada deklarasi kemerdekaan ketika itu. Pernyataan bahwa Belanda menjanjikan kemerdekaan untuk Papua juga merupakan klaim sepihak, yang tidak memiliki bukti historis yang akurat.
  2. Secara historis, deklarasi kemerdekaan Papua justru terjadi 10 tahun kemudian, yakni ketika Seth Rumkorem bersama Jacob Hendrik Prai mendeklarasikan Kemerdekaan Papua di Markas Victoria pada 01 Juli 1971.
  3. Tanggal deklarasi kemerdekaan Papua juga semakin kacau, ketika satu kelompok Papua, yakni WPNGNC (West Papua New Guinea National Congress), pimpinan Michael Kareth justru mengklaim telah mendeklarasikan kemerdekaan Papua pada 27 Nopember 1997. Dan menganggap bahwa semua peringatan deklarasi kemerdekaan Papua yang lain adalah tidak sah.
  4. Tidak aneh, menurut beberapa tokoh Papua di Belanda, aksi GFR ini awalnya dan sampai saat ini hanya antusias dirayakan oleh warga Papua atau marga-marga Papua yang berasal dari wilayah pegunungan Papua. Sementara komunitas atau marga Papua yang berasal dari wilayah pantai, tidak terlalu antusiasi dengan aksi GFR.
  5. Berdasarkan penelusuran historis, aksi GFR relatif baru mulai marak setelah Benny Wenda membentuk organisasi Free West Papua Campaign pada 2004 (yang kemudian bermetaforposis menjadi UMLWP/United Liberaton Movement for West Papua) pada 7 Desember 2014 di Vanuatu. Karena itu, aksi GFR baru mulai ramai dilakukan sejak sekitar tahun 2015. Dengan kata lain, aksi GFR lebih identik dengan upaya mengangkat popularitas Benny Wenda dan organisasi ULMWP.
  6. Singkat kalimat, bahkan di kalangan para aktivis Papua sendiri terjadi perbedaan dan kesimpangsiuran mengenai rujukan historis tanggal peringataan hari kemerdekaan. Dan fakta ini semakin mebuktikan bahwa klaim peringatan kemerdekaan Papua tidak memiliki pijakan dan legalitas historis.

Benny Lapago

Den Haag, 25 Nopember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here