Home Profile History Menelusuri Sejarah Seth Rumkorem

Menelusuri Sejarah Seth Rumkorem

2894
0
Seth Rumkorem (berdiri) membaca naskah "Deklarasi Kemerdekaan Papua" pada 12 Februari 1973 (bukan pada 1 Juli 1971) di Markas Victoria.

Oleh Benny Lapago | Den Haag, 22 Juli 2020

Pada Nopember 2019, tiba-tiba di kalangan sebagian komunitas Papua di Belanda sempat beredar kabar begini: Seth Jafet Rumkorem masih hidup, dengan keterangan yang menegaskan bahwa berita yang menyebutkan Rumkorem meninggal pada Oktober 2010 adalah hoax. Betulkah?

Artikel ini mencoba menelusuri dan mengulas perjalanan hidup Rumkorem secara kronologis.

Kelahiran Biak dengan nama Seth Jafeth Rumkorem

Semua sumber sepakat Rumkorem lahir di Biak pada 05 Juni 1933, dan punya sembilan orang anak. Tidak ada keterangan apakah kesembilan anak itu berasal dari satu ibu atau ada istri lain.

Bernama lengkap Seth Jafeth Rumkorem (nama Seth kadang ditulis menjadi Zeth, sementara Rumkorem biasa ditulis Roemkorem). Berdasarkan nama yang tercamtum dalam teks Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat 1 Juli 1971, tertulis Seth J. Rumkorem.

Aktif sebagai prajurit TNI

Semua sumber sepakat bahwa Rumkorem pernah aktif sebagai prajurit di TNI (Tentara Nasional Indonesia). Namun saya belum pernah ketemu dokumen yang menjelaskan periode aktifnya di TNI.

Sebagian sumber yang belum terkonfirmasi menyebutkan, Rumkorem mengikuti Sesko TNI di Bandung pada tahun 1964 (sumber lain menyebutkan tahun 1969). Dan tidak ada keterangan terkait pangkat terakhirnya di TNI ketika memutuskan keluar dari TNI.

Jika diasumsikan benar Rumkorem pernah mengikuti pendidikan Sesko di Bandung, berati pangkatnya sempat mencapai kolonel. Namun belakangan, dalam berbagai dokumen milik gerakn-gerakan Papua Merdeka, Rumkorem sering disebut berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen).

Membelot dari TNI

Pada sekitar 1970, Rumkorem melakukan perjalanan dinas ke Papua. Penugasan itu konon untuk melaksanakan penyelidikan dan pemeriksaan keuangan kesatuan TNI di Wamena. Ia terbang dari Jakarta/Surabaya ke Wamena, Papua, dan memutuskan tidak kembali lagi.

Dalam perjalanan ke Wamena itu, dengan sejumlah alasan subjektif, Rumkorem memutuskan keluar dari TNI AD dan bergabung dengan pemuda-pemuda yang memperjuangkan kemerdekaan Papua, yang ketika itu bermarkas di wilayah Scothiau (kini bernama Skouw).

Deklarasi Kemerdekaan 1 Juli 1971

Dari Wamena, Rumkorem kemudian bergeser ke Jayapura (tidak jelas apakah naik pesawat atau berjalan kaki).

Selanjutnya dari Jayapura bergerak ke Scothiau (Skouw), diantar seorang kurir laut, lelaki Papua asal Teluk Saireri. Perjalanan ini ditempuh dengan naik perahu. Sebab saat itu, belum ada akses jalan darat yang menghubungkan antara Jayapura (ketika itu bernama Hollandia) dengan Skouw. Catatan: saat ini, jalan akses darat Jayapura-Skouw berjarak sekitar 60 km, dapat ditempuh sekitar 60 s.d 90 menit.

Rumkorem tiba di Scothiau (Skouw), pada 17 Juli 1970. Dan menurut seorang sumber, di wilayah Scothiau saat itu, ada tiga perkampungan.

Catatan: Markas Victoria yang bisa disingkat Mavicatau Marvic terletak di Scothiau (Skouw). Berdasarkan hasil bincang-bincang dengan sejumlah aktivis Papua di Belanda, Markas Victoria jangan dibayangkan seperti sebuah pusat komando dalam arti yang sesungguhnya. Markas Victoria itu terletak di wilayah yang saat ini disebut Scothiau (Skouw), di bagian utara perbatasan antara Indonesia-PNG. Di wilayah Skouw pada 1970-an bahkan mungkin belum bangunan permanen. Perhatikan foto ilustrasi artikel ini: lokasi atau panggung di mana Seth Rumkorem membacakan Deklarasi Kemerdekaan adalah panggung dari potongan-potongan kayu yang dibuat menyerupai rumah kebun.

Selama berada di Scothiau (Skouw), antara 17 Juli 1970 hingga 28 Juni 1971, Rumkorem dan Jacob Prai diklaim berhasil mengkonsolidasikan serta membangun dan memperkenalkan Markas Victoria sebagai pusat perencanaan dan pengaturan strategi perjuangan Papua Merdeka di bidang politik dan militer.

Dengan latar belakang militernya, Rumkorem terus melatih beberapa pemuda Papua untuk menjadi opsir-opsir Tentara Papua, di antaranya Simon Imbiri, Habel Atanay, Jereth Wayoi, John Upuya, Aquila Major, Sepi Wayoi, Philemon Yarisetouw, Yosephat Wayoi, Marthen Tabu, Jance Demetouw.

Gagal menggugat Resolusi PBB 2504, 19 November 1969

Selama berada di Skouw, Rumkorem juga aktif berkorespondensi dengan jaringan tokoh Papua di luar negeri, terutama di Belanda, salah satunya dengan Nicholas Jouwe, yang ketika itu menjabat Ketua National Liberation Council (NLC).

Ketika kemudian Resolusi Sidang Umum PBB (UNGA/United Nations General Assembly) Nomor 2504 disahkan pada 19 November 1969, berbagai tokoh Papua di luar negeri mencoba menggugatnya. Nicholas Jouwe, Ketua National Liberation Council (NLC) sempat datang dan tinggal beberapa bulan di New York, Amerika Serikat untuk menggugat hasil hasil PEPERA (Act of Free Choice) 1969, namun gagal.

Nicholas Jouwe kemudian kembali ke Belanda dengan putus asa. Setibanya di Belanda, Nicholas Jouwe menemukan surat yang dikirim oleh Rumkorem-Prai dari Markas Victoria, yang berisi dua hal: (1) Menanyakan kepada Jouwe sebagai Ketua NLC apakah ada kemungkinan penggugatan terhadap hasil PEPERA di PBB; (2) Menawarkan kepada Nocolas Jouwe untuk menjadi Kepala Negara Papua Barat.

Terhadap surat Rumkorem-Prai tersebut, Nicolas Jouwe menjawab dengan tegas (berdasarkan penuturan Nicolas Jouwe, sekitar 21 tahun kemudian, pada perayaan 30 tahun hari Bendera Bintang Kejora, 1 Desember 1991 di Belanda):  “Kedua Adik Rumkorem dan Prai. Tidak ada kemungkinan untuk kita menggugat; satu-satunya jalan adalah Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat secara sepihak. Adik berdua masih muda. Pimpin perjuangan ini. Adik Rumkorem, kau, kakak usulkan sebagai presiden; dan adik Prai kau sebagai Ketua Senat,” begitu jawaban Nicolas Jouwe terhadap surat yang diterimanya dari Markas Victoria.

Berdasarkan jawaban dari Nicholas Jouwe itulah, Rumkorem-Prai akhirnya menyusun rencana deklarasi Kemerdekaan Papua secara sepihak seperti yang diusulkan oleh Nicolas Jouwe. Dan awalnya lokasi deklarasi akan dilaksanakan di Holamba, Waris. Bukan di Markas Victoria (catatan: tidak ada keterangan kenapa deklarasi kemerdekaan itu diagendakan sejak awal di Holamba, bukan di Markas Victoria). Boleh jadi karena Waris merupakan kampung asal Jacob Hendrik Prai.

Dalam sebuah rapat yang diselenggarakan di Markas Victoria pada 25 Juni 1970, perserta rapat menyetujui proposal yang diajukan oleh Joweni dan Luis Nussy terkait tiga hal: pertama, Rumkorem dan Prai ditunjuk sebagai deklarator; kedua, tangga 1 Juli ditetapkan sebagai hari pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Papua Barat; dan ketiga, lokasi deklarasi kemerdekaan Papua Barat adalah di Holamba, Waris. Bukan di Markas Victoria, Scohtiau (Skouw).

Berdasarkan hasil keputusan rapat tanggal 25 Juni 1971 itu, Rumkorem-Prai kemudian mengerahkan pasukannya, dipimpin oleh Simon Imbiri, untuk menguasai Halomba, di kecamatan Waris, yang akan dijadikan lokasi deklarasi kemerdekaan Papua Barat pada 1 Juli 1971 di pagi hari.

Namun rencana penguasaan Holamba-Wasir meleset. Terjadi kontak senjata antara pasukan Papua Merdeka yang dipimpin oleh Opsir Simon Imbiri dengan Satuan Tentara Indonesia di Pos Waris. Akibatnya pasukan Papua Merdeka terpaksa mengundurkan diri, karena kekuatan personil dan peralatan perang yang tidak berimbang. Tercatat dua pemuda Papua Merdeka yang celaka dalam kontak senjata itu, yaitu John Upuya dan Josephat Wayoi. Keduanya berhasil dievakuasi ke Imonda di wilayah Papua New Guinea (PNG), kemudian dijemput oleh seorang Patrol Officer (Bestuur) dari Pemerintahan Administasi Australia, Mr. Bob Lock.

Akibat lanjutannya, rencana upacara dan pembacaan Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat pada 1 Juli 1971 di Holamba, Waris oleh Rumkorem-Prai batal dilaksanakan. Dan pasukan Papua Merdeka yang dipimpin oleh Opsir Simon Imbiri mundur kembali ke Markas Victoria, di Scohtiau (Skouw).

Naskah proklamasi kemerdekaan Papua, yang dibacakan Rumkorem bertanggal 1 Juli 1971.

Dalam perkembangannya, upacara pembacaan deklarasi kemerdekaan Papua Barat 1 Juli 1971 itu baru dapat dilaksanakan secara resmi sekitar dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Februari 1973 (dua belas Februari, tahun sembilan belas tujuh puluh tiga), di Markas Victoria, Scothiau. Artinya, deklarasi itu memang bertanggal 1 Juli 1971, namun baru dibacakan pada 12 Februari 1973.

Poin lain yang juga sangat menarik, dalam naskah deklarasi itu, tertulis Seth J. Rumkorem sebagai Presiden. Karena itulah, sebagian sumber menyebutkan bahwa Rumkorem adalah “presiden pertama” Papua. Namun yang menarik, meskipun rapat tanggal25 Juni 1970 menyepakati bahwa Rumkorem dan Prai ditunjuk sebagai deklarator, namun di naskah itu hanya tercamtum nama Seth J. Rumkorem, dan tanpa nama Jacob Hendrik Prai.

Aktif melobi di PNG

Beberapa sumber menyebutkan, setelah realisasi pembacaan Deklarasi Kemerdekaan pada 12 Februari 1973, Rumkorem bersama aktivis Papua lainnya aktif melakukan pertemuan dan lobi-lobi dengan Pemerintah PNG, pada periode tahun 1974. Namun lobi-lobi itu tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Sementara itu, posisi Markas Victoria di Skouw semakin terjepit. Dan keamanan para pejuang Papua Merdeka sangat rentan. Karena itulah, muncul inisiatif untuk meninggalkan Markas Victoria.

Dari Markas Victoria berlayar menuju Rabaul PNG

Sekitar tanggal 14 September 1982, Seth Rumkorem bersama 9 orang lainnya, antara lain Luis Nussi, meninggalkan Skouw menuju Rabaul, PNG dengan menggunakan kapal motor (bermesin 40 PK), dan menempuh perjalanan laut non-stop selama 16 hari. Karena penumpang di perahu berjumlah 10 orang, makanya dikenal sebagai “Kelompok-10” (saya memiliki semua nama dari Kelompok-10 itu, namun tidak disebutkan di sini, karena alasan keamanan).

Pada 30 September 1982: rombongan “Kelompok-10” itu tiba di Rabaul (sebuah kota di PNG yang waktu itu masuk wilayah West Briton atau New East Briton).

Tidak banyak yang diketahui tentang kegiatan Rumkorem dan anggota “Kelompok 10” selama berada di Rabaul PNG selama kurang lebih 3 tahun (1982-1985).Beberapa sumber menyebutkan bahwa “Kelompok-10” pecah kongsi di Rabaul.

Namun secara umum, selama periode (1982-1985) ini, melalui beberapa foto, Rumkorem melakukan kegiatan atau pergerakan, seperti tergambar melalui beberapa foto berikut:

Dari Vanuatu ke Sydney Australia

Foto Seth Rumkorem (kiri) yang dipublikasikan pada 15 Mei 1985, saat akan terbang dari Vanuatu menuju Sydney menggunakan pesawat Polynesian Air.

Port Villa Declaration” di Vanuatu, 1985

Foto Seth Rumkorem (kiri, berkacamata) bersama Jacob Prai (kanan, berkumis) saat mendantangi “Port Villa Declaration” di Vanuatu pada 11 Juli 1985

Port Villa Declaration” di Vanuatu 1985 adalah pertemuan yang diinisasi oleh Barak Maautamate Sope (kemudian menjadi PM Vanuatu), yang bertujuan mempersatukan berbagai faksi perjuangan Papua Merdeka, dalam hal ini antara dua tokoh kunci OPM ketika itu, yakni Jacob Hendrik Prai dan Seth Rumkorem.

Yang menarik, karena penandatanganan “Port Villa Declaration” oleh Jacob Hendrik Prai dan Seth Rumkorem belakangan diklaim sebagai bentuk pengakuan bahwa Jacob Hendrik Prai dan Seth Rumkorem telah menyetui bergabung dengan organisasi ULMWP (United Liberation Movement of West Papua).

Klaim bahwa OPM bergabung dengan ULMWP itu diperkuat dengan pernyataan Jacob Hendrik Prai, yang disampaikan dari rumahnya di Swedia pada 28 Desember 2017 (setelah bertemu dengan Benny Wenda), di mana Jacob Prai menegaskan, “I as the founder of the Free West Papua Movement or Organisasi Papua Merdeka (OPM) want to acknowledge and support the United Liberation Movement of West Papua that it is a political organisation that carries the spirit of OPM that will continue the struggle and fulfill its final mission, which is establishing the full independence and sovereign Republic of West Papua.”

Namun pernyataan Jacob Prai tentang ULMWP tidak diakui oleh para aktivis OPM. Dan konflik atau perseteruan antara ULMWP dan OPM masih berlanjut hingga saat ini.

Sebagai kilas balik, seperti disebutkan sebelumnya, pecah kongsi antara Jacob Hendrik Prai dan Seth Rumkorem konon sudah mulai terjadi sejak 1973. Indikatornya, naskah Deklarasi Kemerdekaan Papua yang bertanggal 1 Juli 1971 (namun dibacakan pada 12 Februari 1973) hanya mencamtumkan nama Seth J. Rumkorem (tanpa ada nama Jacob Hendrik Prai).

Rumkoren ke Belanda seorang diri tanpa membawa keluarga, 1987

Ketika datang ke Belanda, Rumkoren datang seorang diri dengen menempuh perjalanan dari Rabaul ke PNG kemudian ke Vanuatu lalu ke Athena, Yunani. Bermukim di Yunani selama sekitar 2 tahun, sebelum masuk ke Belanda sekitar tahun 1987.

Sebagai gambaran, rute perjalanan hampir semua warga Papua yang ingin ke Belanda pada tahun 1980-an umumnya melalui jalur Athena, Yunani. Salah satu pertimbangannya karena Pemerintah Belanda tidak ingin menerima langsung para pelarian tokoh Papua yang langsung datang dari Papua atau negara lain di Pasifik. Umumnya mereka dibiarkan tinggal dulu di Yunani sekitar 1 atau dua tahun dengan status pengungsi, sebelum akhirnya dipanggil secara remsi untuk masuk/datang ke Belanda.

Dan begitu masuk ke Belanda, umumnya melalui dan menempuh jalur darat dari Athena ke Belanda, hanya perlu beberapa bulan untuk mendapatkan status warga negara Belanda. Karena berdasarkan peraturan imigrasi di Belanda, orang Indonesia, khususnya warga Papua dan Maluku yang lahir sebelum tahun 1949, dikategorikan sebagai warga negara Hindia Belanda. Jadi semua warga/penduduk bekas kolonial yang bernama Hindia Belanda, kalau datang ke Belanda dan bisa menunjukkan bukti kelahiran sebelum tahun 1949, hanya perlu sedikit proses administrasi untuk menjadi warga negara Belanda.

Periode 1987-2010

Sejak datang sampai meninggal dunia, Rumkorem tinggal dan hidup di Belanda selama sekitar 13 tahun. Namun kegiatan selama periode 13 tahun itu belum banyak dipublikasikan (masih sedang dilakukan riset lanjutan untuk periode ini, dan hasilnya nanti akan dimasukkan dalam proses editing lanjutan terhadap artikel ini).

Foto prosesi pemakaman Seth Rumkorem di pemakaman Nieuw Eykenduynen Cemetry, Kamperfoeliestraat 2a, Den Haag, Belanda pada 28 Oktober 2010

Rumkorem meninggal 12 Oktober 2010

Di Belanda Seth Rumkorem tinggal seorang diri (tanpa keluarga) di sebuah apartemen. Ketika meninggal dunia pada Oktober 2010, keluarganya (istri dan anak-anaknya) tinggal di Manduser, Bosnik, Biak Timur, Papua Barat.

Dalam sebuah postingan lama di salah satu platform media sosial, Simon Sapioper, Ketua NGRWP menulis ucapan duka di salah satu akun media sosialnya bahwa dirinya sempat mengucapkan duka atas meninggalnya Rumkorem pada 12 Oktober 2010, yang meninggal di rumah kediamannya di Jalan Bernhardstraat 57-1, Wageningen (sekitar 110 km ke arah timur dari Den Haag).

Sapioper berceria, kebetulan waktu itu, dirinya menelepon Rumkoren berkali-kali untuk suatu keperluan. Karena tidak dijawab/diangkat teleponnya, akhirnya Sapioper berinisiatif berkunjung langsung ke rumah Rumkoren, dan betapa kagetnya ia menemukan Rumkoren sudah meninggal seorang diri di dalam rumahnya. Kejadian itu kemudian dilaporkan kepada Polisi. Lalu Polisi Belanda melakukan pemeriksaan TKP di rumahnya pada 16 Oktober 2010. Hasil penyelidikan Polisi menyimpulkan, Rumkorem telah wafat sekitar empat hari sebelum tanggal 16 Oktober (yakni 12 Oktober 2010).

Karena itulah, dalam catatan resmi beberapa organisasi Papua di Belanda, terdapat perbedaan tanggal meninggalnya Seth Rumkorem. Sebagian menyebutkan tanggal 16 Oktober 2010 (mengacu ketika jenazah Rumkorem ditemukan meninggal seorang diri di dalam rumahnya). Sebagian lagi menyebutkan tanggal 12 Oktober 2010 (mengacu pada keterangan polisi yang mengatakan, bahwa Rumkorem meninggal empat hari sebelum tanggal penemuan jenazahnya pada 16 Oktober 2010, yakni tanggal 12 Oktober 2010).

Konfirmasi bahwa Seth Rumkorem benar-benar meninggal pada 12 Oktober 2019 juga diperoleh dari tiga narasumber lainnya, yang hadir dalam prosesi pamakaman jenazah Seth Rumkoren di pemakaman Nieuw Eykenduynen Cemetry, Kamperfoeliestraat 2a, Den Haag, yang dihadiri oleh hampir semua tokoh OAP di Belanda pada saat itu.

Pemakaman jenazah Rumkorem

Pada 29 Oktober 2010, prosesi resmi pemakaman jenazah Seth Rumkorem dilaksanakan di pemakaman Nieuw Eykenduynen Cemetry, Kamperfoeliestraat 2a, Den Haag.

Foto prosesi pemakaman Seth Rumkorem di pemakaman Nieuw Eykenduynen Cemetry, Kamperfoeliestraat 2a, Den Haag, Belanda pada 28 Oktober 2010

Rumkorem diisukan masih hidup

Seperti disebutkan di awal artikel ini, pada Nopember 2019, tiba-tiba di kalangan sebagian komunitas Papua di Belanda sempat beredar kabar begini: Seth Jafet Rumkorem masih hidup, dengan keterangan bahwa berita yang menyebutkan Rumkorem meninggal pada tahun 2020 adalah hoax.

Kabar itu mengacu pada sebuah surat dari seorang wanita bernama Vebby Yune Agustina Rumkorem, S.TH, yang mengklaim dirinya sebagai anak/putrinya Rumkorem. Surat itu (bertanggal 28 Oktober 2019) dikirim kepada seorang pejabat di Jakarta dan memohon agar difasilitasi untuk memulangkan ayahnya (Seth Rumkorem) dari Belanda ke Indonesia. Di suratnya, Vebby menulis catatan bahwa berita meninggalnya Seth Rumkorem sekitar 10 tahun (2010) lalu adalah hoax.

Begitu mendengar kabar itu, saya langsung menghubugi beberapa orang asli Papua yang sudah lama berdomisili di Belanda (sebagian besar di antaranya sudah menjadi warga negera Belanda) untuk memastikan kabar itu, dan semua narasumber memastikan Rumkorem telah meninggal dunia, sejak Oktober 2010, ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Jalan Bernhardstraat 57-1,Wageningen (berjarak sekitar 110 km ke arah timur dari Den Haag). Dan meninggalnya Rumkorem itu dibuktikan dengan foto-foto prosesi pemakamannya, serta lokasi makamnya, yang hingga saat ini kadang dikunjungi oleh pendukungnya, khususnya pada 1 Juli, untuk melakukan tabur bunga.

Posisi kuburan Rumkorem di pemakaman Kamperfoeliestraat 2a, Den Haag, Belanda (foto diambil pada Juli 2020)

Seorang narasumber mengatakan, boleh jadi Vebby Yune Agustina Rumkorem adalah cucu atau mungkin ponakan (bukan anak) dari Rumkorem; tapi juga terbuka kemungkinan Vebby dimotivasi penipuan karena ingin pergi dan tinggal di Belanda. Sumber itu mengatakan, “Secara pribadi, saya mengenal semua anak Seth Rumkorem yang berjumlah sembilan anak, dan tidak ada satupun anaknya yang bernama Vebby Yune Agustina Rumkorem”.

Seorang sumber lain berkomentar, pandangan sebagian warga Papua bahwa Seth Rumkorem masih hidup, boleh jadi karena terpengaruh oleh paham pergerakan Karori, yang populer di kalangan warga Biak, Papua. Paham Karori ini adalah semacam gerakan mesianik, yang mirip dengan doktrin/mitos ratu adil (dalam tradisi Jawa) atau Imam Mahdi (dalam Islam terutama Syiah) atau Mesiah (dalam Kristen).

(To be updating)

——————-

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan beberapa kali wawancara langsung dengan sejumlah tokoh Papua di Belanda pada periode 2019-2020 (karena faktor keamanan nama sumber tidak disebutkan). Sumber lain adalah artikel berjudul “Brigjen Seth J. Rumkorem Membelot dari TNI AD dan Proklamirkan Papua Barat”, yang ditulis Constantinopel Ruhukail dan dimuat di website Suara Papua, 1 Juli 2020. Constantinopel Ruhukail menulis artikelnya antara lain dengan mewawancarai Mr. Rudi Raka, Staf Intelijen Kepresidenan Pemerintahan Rumkorem-Prai 1973. Constantinopel Ruhukail adalah redaktur majalah “FAJAR MERDEKA” dan “PRO-PATRIA” yang diterbitkan Kementerian Penerangan Pemerintahan Revolusi Sementara Republik Papua Barat (PRS-PB), di Markas Victoria – Nagasawa, Ormu Kecil, pada tahun 1982.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here